Sunday, July 22, 2012


Uji Kompetensi Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan
(Radar Mojokerto, Kamis, 2 Agustus 2012)
Oleh: Abdulloh Syifa’, M. Ed.



 
Mulai Senin, 30 Juli 2012 sampai dengan Jumat, 10 Agustus 2012, secara bergiliran,sebanyak 4.934 guru negeri dan swasta mulai jenjang TK/SD sampai dengan SMA di kabupaten Jombang akan mengikuti kegiatan uji kompetensi guru (UKG). Kegiatan yang dimaksudkan untuk pemetaan penguasaan kompetensi guru ini sempat menjadi kontroversi di kalangan guru. Kegiatan ini dianggap sebagai akal-akalan pemerintah untuk menghentikan tunjangan profesi pendidik (TPP) yang selama ini telah dinikmati para guru. Bahkan, sempat muncul ajakan lewat sms untuk melakukan demonstrasi dan pemboikotan terhadap kegiatan ini.

Namun demikian, setelah ada kejelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya kegiatan uji kompetensi guru ini, lambat laun kontroversi itu mereda. Seperti disebutkan dalam buku panduan uji kompetensi guru yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk memetakan penguasaan kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Dengan adanya peta kompetensi guru yang valid, diharapkan program-program pengembangan kompetensi guru akan lebih fokus dan efisien. Tidak bisa dipungkiri, pemerintah telah menggerojok dana miliaran rupiah untuk meningkatkan kompetensi guru, namun demikian peningkatannya belum terlihat signifikan.

Kegiatan uji kompetensi guru ini penting karena kegiatan ini diharapkan bisa menjadi salah satu faktor pemicu (triggering factor) peningkatan mutu pendidikan. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa kompetensi yang akan diujikan adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional dengan proporsi masing-masing 30 persen dan 70 persen. Tanpa menafikan kedua kompetensi yang lain yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu kompetensi sosial dan kepribadian, kompetensi pedagogik dan profesional adalah kompetensi yang langsung bersentuhan dengan mutu pembelajaran.

Apabila kompetensi guru di dua ranah ini bagus bisa dipastikan bahwa pembelajaran yang diberikan akan bermutu. Guru yang mempunyai kompetensi profesional yang bagus akan menguasai materi yang diajarkannya (subject matter) secara mendetail. Penguasaan subject matter ini penting karena tanpa itu akan banyak terjadi salah konsep dan guru tidak akan mampu melakukan tindakan reflektif untuk memperbaiki proses pembelajarannya, karena dia tidak menguasai content materi yang diajarkannya.

Namun demikian, penguasaan materi saja belumlah cukup, guru juga harus mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswanya, sehingga materi yang disampaikan akan mudah dipahami dan diinternalisasi oleh siswa. Di sini, kompetensi pedagogik akan berperan penting. Tidak jarang kita dapati, guru merasa sudah menyampaikan materi pelajaran dengan susah payah, tapi kenyataannya pemahaman siswa masih sangat lemah. Hal ini terjadi, salah satunya, karena guru tidak mempertimbangkan karakteristik siswa ketika mengajar. Sehingga ada penolakan dari diri siswa. Seperti dikatan Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Gurunya Manusia”: bahwa hak mengajar itu sebenarnya ada pada murid, dan guru harus merebutnya.

Disamping diharapkan akan menjadi salah satu faktor pemicu peningkatan mutu pendidikan, kegiatan uji kompetensi ini juga penting karena kegiatan ini akan ‘memaksa’ guru untuk belajar dan mengembangkan diri. Tidak bisa dipungkiri, banyak diantara para guru yang telah merasa nyaman dan mapan dengan keadaannya sekarang. Mereka enggan untuk meng-update dirinya dengan metode-metode pembelajaran yang baru, bahkan tidak jarang mereka bisa tertinggal dari muridnya dalam penguasaan subject matter yang diajarkannya. Tentu hal seperti ini tidak boleh terus berlangsung. Seperti dikatakan pakar statistik ITS, Kresnayana Yahya, bahwa salah satu hukum dalam pendidikan mengatakan: if you stop growing today, you stop teaching tomorrow. Jika Anda berhenti berkembang, berhenti meng-update diri hari ini, maka Anda berhenti saja mengajar besok.

Seperti yang dikatakan Mario Teguh, dalam bukunya ‘Guru Super Indonesia’, “Ketulusan untuk menjadikan diri sebagai murid, bisa menjadi sikap yang lebih penting daripada kesediaan menjadi guru.... Guru yang terbaik adalah guru yang ikhlas untuk selamanya menjadi murid.’ Kemauan untuk selalu mengembangkan diri, baik itu yang berkaitan dengan subject matter yang diajarkannya maupun yang berkaitan dengan metode-metode pembelajaran yang mutakhir, akan terpicu dengan adanya kegiatan uji kompetensi guru ini. Memang, kadang perlu motivasi ekstrinsik untuk mengubah diri.

Pada sisi lain, kegiatan uji kompetensi guru ini juga diharapkan akan bisa meningkatkan kepercayaan  masyarakat terhadap harkat dan martabat profesi guru. Kegiatan uji kompetensi guru ini akan menjamin kualitas layanan pendidikan akan selalu dikontrol. Dengan demikian, masyarakat selaku stake holder pendidikan, akan merasa terpenuhi hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas bagi putera-puterinya. Dengan demikian, komentar-komentar minor yang sering dialamatkan kepada guru, misalnya: sudah dapat tunjangan profesi tapi mengajarnya masih memble, diharapkan lambat laun akan berkurang.

Melihat kenyataan di atas, maka, tidak dapat tidak, guru harus bersiap diri mengikuti kegiatan uji kompetensi guru ini. Tidak ada yang perlu ditakutkan, karena sebenarnya materi yang diujikan adalah apa yang telah dilakukan guru sehari-hari di dalam kelas dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Hal ini baru akan menjadi masalah kalau guru selama ini belum melaksanakan kegiatan sehari-hari di kelas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dan karena kegiatan ini akan dilaksanakan secara on-line, maka perlu bagi guru untuk membiasakan diri dengan sistim tersebut. Good luck!

Friday, July 20, 2012


Why Not? (1)
Hari itu hari kedua setelah pengumuman penerimaan peserta didik baru. Ada seorang wanita setengah baya, yang nampaknya keturunan cina, datang ke sekolah. Dengan agak terbata-bata dia menyampaikan maksud kedatangannya, “Pak, tolong saya diberi solusi, pegawai saya stress karena anaknya tidak diterima di sekolah ini. Dia stress karena anaknya juga stress.” Aku kaget. Apa iya? “ Dia sangat pengin sekolah di sekolah ini karena katanya sepak bolanya nomor wahid,” lanjutnya.
Penggalan cerita di atas merupakan salah satu kenyataan mengharukan yang sedang dirasakan teman-teman di sekolah saat ini. Pada kegiatan penerimaan peserta didik baru kemarin kami memang mendapatkan jumlah pendaftar yang berlimpah. Dengan demikian kami bisa memperoleh intake siswa yang lebih baik—sesuatu yang sangat diimpikan teman-teman. Hal ini menjadi kenyataan manis karena selama beberapa tahun belakangan sekolah ini sering kekurangan pendaftar, bahkan pernah sampai harus membuka pendaftaran gelombang kedua.
Teman-teman sering mengeluh karena sekolah ini distigma menjadi sekolah kelas dua, muridnya adalah ‘buangan’ dari sekolah lain yang lebih favorit, banyak yang tidak lulus ketika ujian nasional, anaknya nakal-nakal, dan seterusnya dan seterusnya, yang semuanya serba negatif dan membuat minder.
“Kalau kenyataannya seperti itu, lantas apa sikap kita?”, tanyaku kepada teman-teman ketika ngobrol di ruang guru. Banyak komentar yang diberikan oleh teman-teman. Tak jarang komentar yang diberikan hanyalah ekspresi menerima nasib sebagai sekolah yang dipinggirkan oleh stigma yang diberikan masyaarakat. ”Kalau kita menginginkan hasil yang luar biasa, maka harus ada usaha yang luar biasa pula,” kataku mengutip kata-kata Mario Teguh—walau hidup memang tak seindah dan semudah kata-kata Mario Teguh.
Kita harus melakukan sesuatu, kalau kita ingin stigma itu berubah. Kita tidak bisa hanya berdiam diri meratapi nasib. Dalam kitab suci dikatakan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak mau merubahnya. Kalimat-kalimat tadi terus-menerus saya induksikan kepada teman-teman sehingga akhirnya kita punya tekad yang sama: kita harus melakukan sesuatu kalau ingin berubah.
Maka, mulailah dirancang program-program untuk mengkompensasi stigma-stigma negatif yang telah melekat pada sekolah kami. Berdasarkan hasil diskusi dengan teman-teman guru, akhirnya disepakati langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengkompensasi stigma yang pertama—yaitu anggapan masyarakat bahwa sekolah kami adalah sekolah kelas dua dan muridnya adalah ‘buangan’ dari sekolah lain yang lebih favorit. Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah: mengenalkan sekolah kepada anak-anak SD/MI di sekitar sekolah, menjalin kemitraan dengan guru-guru SD/MI di sekitar sekolah, dan tidak lupa menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar sekolah.
Kami berasumsi, bahwa anak-anak lulusan SD/MI atau dalam hal ini orang tuanya enggan mendaftar di sekolah kami karena mereka belum tahu dengan sebenarnya sekolah kami. Jadi sekolah perlu membuka diri dan semua warga sekolah haruslah menjadi humas yang baik dari sekolah. Harus ada cara yang membuat orang tahu keadaan kami sekarang. Harus dirancang kegiatan yang menghadirkan sebanyak mungkin anak SD/MI, guru-gurunya, bahkan kalau mungkin orangtuanya ke sekolah kami. Dan kegiatan tersebut harus murah karena sekolah kami hanya mengandalkan pendanaan dari dana BOS. Tanpa pernah meminta sumbangan kepada masyarakat.
Akhirnya, langkah pertama yang disepakati adalah dengan mengadakan kegiatan try-out ujian nasional untuk anak-anak SD/MI di sekitar sekolah. Kegiatan tersebut harus gratis dan berhadiah agar bisa menarik minat sebanyak mungkin siswa. Dan untuk membuat anak-anak SD/MI tertarik dengan sekolah ini, pada saat kegiatan try-out dilaksanakan juga open day sekolah: kami pamerkan semua aktifitas sekolah.
Anak-anak yang ikut ekstra sepakbola dan bola voli, mereka datang dan berlatih dengan pakaian seragam olahraganya yang keren. Yang ikut pramuka, juga mengadakan latihan pramuka. Di ruang serbaguna dipamerkan hasil karya anak-anak, mulai dari lukisan, batik, dan hasil kerajinan yang lain. Kami pamerkan juga alat-alat laboratorium IPA, yang mikroskop-nya bisa juga dicoba-coba oleh anak-anak yang mengunjunginya. Dan tak lupa, diputarkan video kegiatan siswa, mulai dari kegiatan pramuka sampai dengan LDK. Pokoknya hari itu harus menjadi hari yang meriah yang membuat anak-anak itu ingin kembali suatu saat nanti.
Saya dan guru-guru yang kebetulan tidak mendapat tugas mengawasi try-out menyebar  untuk menemani guru pengantar dan orang tua siswa yang ada di lokasi sekolah. Kami ajak mereka ngobrol sambil menjelaskan program-program dan ‘impian’ sekolah. Kami juga mencoba menjaring masukan program-program apa yang harus kami adakan di waktu yang akan datang.
Lantas dari mana dananya? Dari dana BOS jelas tidak bisa. Cari sponsor adalah satu-satunya cara. Tapi, bagaimana bisa menarik sponsor kalau sekolah kita dianggap tidak ‘layak jual’? Kami memutar otak. Mencari celah-celah yang bisa digunakan untuk menarik minat sponsor. Alhamdulillah, kami bisa memanfaatkan link yang ada, apa itu teman penerbit, kursusan, lembaga bimbel, asuransi dan sebagainya yang semuanya punya kerjasama dengan sekolah. Bahkan, ada dari teman guru sendiri yang menjadi sponsor. Alhasil, kegiatan try-out yang kami rancang tersebut berjalan sukses luar biasa. Tidak ada satu kursi pun tersisa.
Melihat kesuksesan kegiatan try-out tersebut kami merasa optimistis bahwa dalam PPDB nanti kami tidak perlu khawatir kekurangan pendaftar. Dan alhamdulillah, kenyataannya memang demikian, bahkan kami kelimpahan banyak pendaftar, hingga lebih dari 140 siswa yang terpaksa tidak bisa tertampung di sekolah kami. The dream comes true, akhirnya mimpi kami untuk memperoleh intake yang bagus menjadi kenyataan. Why not? Mengapa tidak? Kalau ada kemauan pasti ada jalan untuk mencapainya.
Ini adalah awal yang baik, tapi, masih ada program lain yang harus dilaksanakan untuk menjamin keberhasilan ini bukan hanya sebuah kebetulan. Program kemitraan dengan guru-guru SD/MI adalah program kami berikutnya. Kami punya fasilitas ruang komputer dan punya SDM yang bisa membimbing belajar komputer. Kami ingin, suatu saat nanti, kami bisa bersama-sama dengan guru-guru SD/MI di sekitar sekolah belajar komputer bersama. Kami ingin berbagi trik-trik mengajar untuk menyiapkan anak-anak menghadapi ujian nasionalnya. Kami ingin keberadaan sekolah kami benar-benar menebar banyak manfaat. Kami juga ingin masyarakat sekitar juga merasakan manfaat keberadaan sekolah kami di lingkungannya. Ini tentu bukan pekerjaan yang mudah, tapi why not?
Mungkin sampai di sini dulu share saya kali ini. Pada bagian berikutnya, kami nanti ingin berbagi, bagaimana usaha kami mengkompensasi stigma yang kedua: banyak yang tidak lulus ketika ujian nasional!

Saturday, March 31, 2012

KISAH NYONYA THOMPSON (Cerita dari sebuah milist)



Namanya Ny. Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran dan berbohong kepada murid-muridnya.

Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil.

Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot. Namanya Teddy Stoddard.

Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya
morat marit dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka.

Itu semua mendapat penilaian, di mana Ny.Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.

Di sekolah tempat Ny.Thompson mengajar, ia diminta
untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan cacatan Teddy di
giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut.

Guru kelas satu Teddy menulis,Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik.Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya.

Guru kelas duanya menulis, Teddy adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy.

Guru kelas tiganya menulis, Ia mendengar kematian ibunya. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan
kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.

Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah. Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.

Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertasyang menyala, kecuali pemberian Teddy. Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja.

Ny.Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.

Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.

Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, “Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya.”
 Setelah murid-muridnya pergi, Ny.Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny.Thompson berhenti untuk mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya.

Ny. Thompson memberi perhatian khusus kepada Teddy. Selama bekerja dengannya, pikiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan.

Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.

Satu tahun berlalu, Ny. Thompson menemukan sebuah surat dibawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, ranking tiga di kelas, dan Ny.Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi.
Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditandatangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.

Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin.Tentu saja Ny. Thompson bersedia.

Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama. Mereka berpelukan dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, "Terima kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan."

Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata, "Teddy, semua yang kamu katakana keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu."

Hangatkan hati seseorang hari ini .Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh
atau merubah diri seseorang.

Cobalah lakukan hal itu dengan cara yang positif. Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Saturday, August 6, 2011

Mengejar Gus Ipul


Selasa malam, ramadhan kedua, sekitar jam 10 telpon selulerku berdering. Dengan agak sedikit dongkol karena barusan ketiduran karena capek seharian melakukan seabreg aktifitas, aku angkat panggilan itu.
 “Mas, Gus Ipul akan datang ke masjid kita hari Sabtu. Kita siap nggak?” suara pak Kepala Dusun dari ujung telpon, “Aku baru saja ditelpon Pak Lurah, kalau kita siap, beliau akan dihadirkan di masjid kita, kalau tidak siap ya akan dialihkan ke masjid lain,” sambung pak Kepala Dusun. Tanpa berpikir panjang aku jawab, “Ya, kita siap.” 

Kapan lagi dusunku akan dikunjungi pejabat. Saya rasa ini kesempatan langka. Dan saya yakin kedatangan pejabat sedikit banyak akan membawa berkah bagi dusun kami. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku mulai merancang apa yang harus aku lakukan sebagai ketua ta’mir untuk menyiapkan penyambutan kadatangan wakil gubernur kita itu. Aku ini mungkin tipe orang dominan otak kiri, walau tadi ketika menjawab telpon aku jadi sedikit kanan, sehingga aku harus menyusun rancangan secara detil: besok pagi aku hubungi semua pengurus ta’mir, mendiskusikan lewat telpon tentang persiapan, malam hari setelah taraweh ketemu ketua Ansor yang menjadi sponsor acara, sepulang dari menemui ketua Ansor, sekitar jam 10 malam, bertemu dengan pengurus ta’mir dan beberapa tokoh masyarakat. Karena ini sudah H-4 dari jadwal kedatangan.

Alhamdulillah semua planning berjalan baik. Dari Ansor dapat dukungan dana untuk sewa tenda dan takjil buka puasa. Tokoh masyarakat sangat antusias mendukung acara itu. Ibu-ibu dengan semangat merancang menu buka puasa untuk para tamu, yang diperkirakan sampai 500 orang. Bapak-bapak merancang di mana harus dibuat tempat wudlu darurat supaya orang tidak berjubel ketika ambil air wudlu untuk jamaah ashar bersama sang wagub yang juga ketua PBNU itu. Anak-anak muda remaja masjid sibuk merancang lokasi untuk parkir kendaraan tamu dan rombongan Gus Ipul, sekaligus membagi personil siapa harus bertugas di mana. Seksi perlengkapan sibuk menelpon pesan tenda dan sound system. Sekretaris ta’mir di depan laptopnya membuat undangan untuk diumumkan di masjid-masjid sekitar, juga pemberitahuan ke sekolah-sekolah di desa kami untuk mempersiapkan murid-muridnya untuk menyambut kedatangan sang tamu. Jadilah serambi masjid malam itu seperti pasar malam, ramai. Kami begadang sampai jam 12 malam. Tak terasa sudah masuk hari Kamis, H-3 acara.

Kamis malam kami berkumpul lagi untuk checking kesiapan. Semua berjalan dengan baik. Tenda dan soundsystem sudah terpesan dan siap dipasang Jum’at jam 2 siang. Seksi konsumsi akhirnya menyerah, tidak sanggup kalau harus masak sendiri, dan akhirnya pesan di katering saja. Sekretaris sudah membawa segepok undangan yang akan dibagikan besok. Dus, 90 persen kami sudah siap menyambut kedatangan Gus Ipul.
Lega rasanya ketika persiapan lancar dan beres. Walau itu dicapai lewat kerja keras dan harus pontang panting. Walau malam itu rapat jam 10 sudah selesai, namun teman-teman belum mau pulang. Mereka sibuk membicarakan apa yang terjadi. “Kita seperti dapat lailatul Qadar saja, kedatangan Gus Ipul dalam waktu yang sangat mendadak dan tanpa disangka-sangka. Mudah-mudahan membawa berkah.”, ujar salah satu teman pengurus ta’mir. Dan setelah itu masing-masing sibuk mengutarakan skenarionya apa yang akan dilakukan ketika bertemu pak wagub dua hari lagi. Sekretaris ta’mir menyodorkan proposal untuk saya baca dan tanda-tangani: minta bantuan untuk meneruskan membangun teras belakang masjid yang belum selesai dan persiapan gedung untuk TPQ, “Siapa tahu direspon sama Gus-nya, Mas,” katanya sambil nyengir. Ya..ya...ya...., semua teman yang lain mengamini. Lagi, jam 12 malam kami baru pulang dari masjid.

Besoknya, Jumat, H-1 acara, sehabis jamaah Jumat, kami tidak langsung pulang. Kami bersiap untuk mulai kerja bakti menyiapkan tempat. Sebentar lagi terop dan sound system akan datang. Tapi tiba-tiba telpon selulerku berdering. “Harap cepat ke Hotel Fatma untuk ketemu Gus Ipul.”. Wah ini pasti mau merundingkan skenario besok, pikirku. Karena harus bersiap-siap dan menghubungi beberapa teman lain kami baru bisa berangkat ke hotel satu jam kemudian. Di tengah perjalanan teleponku berdering lagi tanda ada pesan masuk. Karena aku harus nyetir mobil, sms dibuka oleh pak kepala dusun yang duduk di sebelahku. Haahhhhh!!!!!!!. Dia berteriak yang mengakibatkan seisi mobil kaget. Gus Ipul gak jadi datang, begitu isi sms.
Seperti gak percaya, semua saling berpandangan. Lho...koq bisa???. Ada apa????? Mobil aku tepikan. Seperti kesambar petir rasanya. Kupandangi wajah teman-temanku yang kecewa. “Oke, kita ke hotel saja. Supaya kita tahu apa penyebab kegagalan acara ini,” kataku. Lima menit kemudian kami nyampai di hotel. Kulihat lobi hotel sudah sepi. Gus Ipul pasti sudah tidak ada di sini. Seorang anak muda, sambil menelpon lewat ponselnya, mempersilahkan kami duduk. “Lima menit lalu rombongan Bapak berangkat. Bapak-Bapak ditunggu lama di sini tadi,” ujar anak muda itu, yang ternyata bendahara Ansor cabang. Dari dia kami tahu bahwa pada saat yang sama dengan acara di masjidku besok, ternyata Gus Ipul harus mewakili pak Gubernur menghadiri acara di Kediri. “Jadi, acara di masjid kami nggak mungkin di atur ya, Mas?” tanyaku, “dengan sangat menyesal, Bapak. Kayaknya nggak bisa.”

Berakhir sudah semua rencana. Seksi perlengkapan menelpon pemilik terop dan soundsystem untuk membatalkan. Ternyata mereka sudah ada di perjalanan dan dipaksa balik kanan dan pulang. Seksi konsumsi membetalkan pesanan konsumsi di katering dan harus mengikhlaskan uang panjar yang sudah diberikan. Beberapa teman kelihatan tertunduk diam. Beberapa yang lain mengucapkan sumpah serapah kekecewaan. “Ini bulan puasa, puasa itu melatih kesabaran.... barangkali ini ujian dari Alloh untuk kita semua, kalau kita lulus insyaalloh kita akan beroleh berkah yang lebih besar lagi,” kataku menghibur.


Dalam perjalanan pulang dari hotel, telponku berdering lagi, tanda ada pesan masuk. Seperti tadi, pak kepala dusun yang membuka sms itu. Ternyata dari ketua Ansor cabang, “Besok silahkan datang ke masjid agung, Gus Ipul akan datang membuka kegiatan pondok romadhon anak SMA dan Aliyah, acara di masjid Bapak, insyaalloh akan diagendakan di lain waktu.” Lagi, kami saling berpandangan. “Kita masih bersemangat mengejar Gus Ipul?” tanyaku pada teman-teman. Mereka saling berpandangan, dan secara hampir bersamaan, menjawab, “Kenapa tidak???”.



Tuesday, August 2, 2011

Catatan Ramadhan 1


Mengawali ramadhan kali ini, sehabis sahur pertama, seperti kebiasaan, aku meng-sms teman-temanku untuk sekedar mengucapkan selamat berpuasa dan meminta maaf atas segala khilaf yang pernah aku perbuat kepada mereka. Karena dikisahkan, malaikat Jibril berdo’a, “Ya Alloh, tolong abaikan puasa ummat Muhammad, jika sebelum memasuki bulan ramadhan, dirinya belum: memohon maaf kepada orangtuanya, bermaafan antara suami-isteri, dan bermaafan dengan orang-orang di sekitarnya/ teman, saudara, juga kerabatnya.” Terhadap do’a itu rosululloh SAW mengamininya sebanyak tiga kali.

Beberapa teman menjawab sms itu, dengan juga meminta maaf dan berdoa mudah-mudahan ramadhan kali ini menjadi bulan yang penuh berkah; beberapa teman yang lain mengabaikan. Salah satu teman yang me-reply sms-ku adalah teman satu kos-kosan ketika kami kuliah di Australia dulu. Jawabanya begini, “Salam dari Jepang. Saya juga meminta maaf. Salam untuk keluarga”. Temanku itu tampaknya sekarang sedang berada di negeri sakura untuk mengikuti program bagi young researcher. Dia Ph.D di bidang klimatologi dan sekarang mengajar di IPB.

Ketika kusampaikan salam temanku itu kepada isteri dan anak-anakku, dan kuceritakan kalau sekarang dia berada di Jepang, anak bungsuku, seperti tanpa berfikir saja, berkomentar, “Ayah ngiri ya?”. Degg... aku kaget dengan reaksinya. Walaupun dalam hati aku ingin bilang iya, tapi yang keluar dari bibirku adalah, “tidak...tidak..., aku hanya ingin kamu nanti harus bisa seperti dia...melanglang buana mencari ilmu, sampai di negeri orang.”

Iri? Apakah aku iri dengan keberhasilan temanku ini? Satu lagi pelajaran yang aku peroleh dari anakku, bahwa kita harus pandai mensyukuri apa yang Alloh telah berikan kepada kita. Kita sering tidak menyadari bahwa Alloh telah memberi sangat banyak kepada kita. Kita masih mengharap-harapkan sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Neighbour’s grass is greener than ours. Pelajaran pertama yang aku peroleh di ramadhan kali ini, pagi-pagi sekali sehabis sahur, adalah aku diingatkan oleh anakku yang masih kelas 4 MI untuk lebih banyak bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadaku. Lain syakartum laaziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabi lasyadiid. Semoga ramadhan kali ini lebih menempa aku untuk bisa menjadi orang yang pandai bersyukur, sehingga makin lapang dadaku, dan makin tenteram hidupku. Amiin.

Sunday, January 2, 2011

Kepemimpinan Menuju Sekolah Efektif


Abdulloh Syifa', M. Ed.


Pendahuluan

Kepemimpinan sekolah yang efektif sangat penting bagi tewujudnya sekolah yang efektif. Efektifitas suatu sekolah dapat dilihat dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun non-akademik, serta lulusannya relevan dengan tujuan pendidikan nasional. Karena seperti dikatakan Komariah dan Triatna (2008:8), bahwa melalui prestasi siswa sebenarnya dapat ditelusuri manajemen sekolahnya, profil gurunya, sumber belajar, dan lingkungannya. Dengan kata lain, sekolah bisa dikatakan efektif bila sekolah itu dikelola secara baik, gurunya profesional, sumber belajarnya tersedia, dan lingkungannya kondusif untuk pembelajaran. Dan itu semua bisa terwujud bila ada kepemimpinan yang efektif di sekolah tersebut.

Tugas kepemimpinan di sekolah saat ini jauh lebih berat bila dibandingkan dengan masa-masa yang lalu. Tantangan yang dihadapi sekolah juga jauh lebih kompleks dan beragam. Perubahan yang cepat di masyarakat dalam segala segi memerlukan respon yang cepat dan tepat dari sekolah, kalau sekolah tidak ingin teralienasi dari masyarakat penggunanya. Kurikulum sekolah yang selalu berubah, manajemen sekolah yang baru, passing grade Ujian Nasional yang terus meningkat, membuat pekerjaan memimpin sekolah semakin berat. Bahkan karena terlalu beratnya tekanan yang dihadapi pemimpin sekolah saat ini banyak dari mereka yang terpaksa berguguran di tengah jalan. Mereka memilih mundur dari jabatan sekolah.

Mencermati tantangan-tantangan di atas, maka visi saya apabila menjadi kepala sekolah adalah: terwujudnya kepemimpinan bersama di sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas bagi siswa. Hal tersebut akan direalisasikan melalui misi: mengembangkan visi bersama, memberdayaan komunitas sekolah, membagi kepemimpinan di sekolah, mengembangkan masayarakat belajar yang profesional, dan making a difference, yakni membuat sekolah berbeda dari sekolah yang lain dengan memunculkan salah satu keunggulannya.

Makalah ini selanjutnya akan membahas secara berturut-turut tentang: pengertian kepemimpinan bersama di sekolah, bagaimana mengembangkan visi bersama, hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk memberdayakan warga sekolah, bagaimana seharusnya kepemimpinan di sekolah dilaksanakan, dan bagaimana memunculkan keunggulan untuk membuat sekolah tidak lagi dipandang sebelah mata. Kalau hal-hal yang disebutkan tadi dapat dilakukan, saya berkeyakinan, kepemimpinan sekolah yang efektif akan terwujud dan akhirnya prestasi akademik dan non-akademik peserta didik akan meningkat.

Kepemimpinan Bersama di Sekolah

“Within every school there is a sleeping giant of teacher leadership, which can be a strong catalyst forr making change.”

(Marilyn Katzenmeyer & Gayle Moller)

Tantangan-tantangan yang berat yang dihadapi sekolah sekarang ini tidak lagi relevan kalau hanya dibebankan ke pundak seorang kepala sekolah. Dalam situasi seperti ini guru bisa mengambil perannya sebagai pemimpin dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang agenda-agenda penting sekolah. Seperti dikatakan Newman dan Simmons dalam jurnal Phi Delta Kappan No. 82 tahun 2000, bahwa pendidikan berkualitas bagi siswa akan bisa diberikan bila ada pembagian tanggung jawab kepemimpinan di sekolah. Dengan kata lain, kepemimpinan di sekolah bukan hanya monopoli kepala sekolah. Dengan melibatkan guru dalam pengambilan keputusan tentang agenda-agenda penting sekolah, akan memberikan efek psikologis yang positif bagi guru. Mereka akan merasa mempunyai posisi yang sama dengan staf sekolah yang lain dan akhirnya mempunyai tanggung jawab yang sama pula dalam menyukseskan agenda-agenda penting sekolah. Ini sebenarnya adalah harapan yang bisa kita tangkap dari diterbitkannya Permindiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh satuan pendidikan Dasar dan Menengah.

Marilyn Katzenmeyer dan Gayle Moller seperti dikutip Crowther, Kagan & Hann (2002:3) mengungkapkan bahwa di tiap sekolah ada raksasa yang tertidur (sleeping giant), yaitu kepemimpinan oleh guru. Dengan memanfaatkan energi dari guru sebagai pemimpin (teacher leader) sebagai agen pembaharu di sekolah, perbaikan mutu di sekolah akan lebih bisa diwujudkan. Di sini, kepala sekolah harus bisa mendorong munculnya kepemimpinan guru apabila program-program sekolah ingin berjalan lancar. Raksasa yang tertidur itu harus dibangunkan.

Namun, tidak selalu mudah untuk bisa melibatkan guru dalam proses-proses penting yang terjadi di sekolah. Guru akan mudah dilibatkan proses-proses penting tersebut apabila dia merasa memiliki visi yang dimiliki sekolah. Dengan demikian, apabila kepala sekolah menginginkan semua guru dan komponen sekolah mau terlibat dalam proses-proses penting di sekolah, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengembangkan visi bersama sekolah.

Mengembangkan Visi Bersama

Hold fast to dreams

For if dreams die

Life is a broken-winged bird

That cannot fly

Hold fast to dreams

For if drems go

Life is a barren field

Frozen with snow

Langston Hughes (1902-1967)

Memiliki sebuah visi adalah ciri utama yang harus melekat pada seorang pemimpin. Visi ini akan menjadi panduan ke mana organisasi sekolah akan berjalan untuk mencapai tujuannya. Yaitu memberi pelayanan terbaik kepada konsumennya. Sebagaian besar pencapaian gemilang sebuah organisasi adalah karena kekuatan visi yang dimiliki pemimpinnya. Beraneka ragam model motor dan mobil Suzuki yang beredar saat ini adalah perwujudan dari visi inovasi tiada henti yang dimiliki perusahaan otomotif itu. Kita selalu bisa menikmati rubrik-rubrik baru di koran nasional Jawa Pos karena visi yang didengungkan perusahaan itu adalah: selalu ada yang baru. Jadi, hal pertama yang harus dilakukan pemimpin sekolah adalah menentukan visi sekolah. Karena seperti dikatakan de Vries dalam bukunya The Leadership Mystique, bahwa tidak akan ada kepemimpinan tanpa adanya visi.

Di dalam menentukan visi, harus mempertimbangkan nilai-nilai di masyarakat, trend di lingkungan sekolah dan global, juga kebijakan nasional dalam bidang pendidikan. Dengan kata lain, kita harus mempertimbangkan realitas yang ada dalam menentukan visi sekolah. Visi yang dikembangkan tanpa mempertimbangkan realitas, hanya akan menimbulkan sinisme belaka (Senge, 1990).

Namun, visi ini tidak cukup bila hanya dimiliki oleh kepala sekolah. Visi ini harus dimiliki oleh seluruh komponen sekolah bila kita ingin visi itu menjadi kenyataan. Dengan demikian, tugas berikutnya dari seorang kepala sekolah adalah menjamin visi itu dimiliki oleh seluruh warga sekolah. Jika hal itu bisa direalisasikan, semua warga sekolah memiliki visi yang sama, akhirnya akan bisa memfokuskan dan mengintegrasikan usaha sekolah untuk memberi layanan yang berkualitas pada konsumennya. Gill (2006) berpendapat bahwa visi bersama akan membantu mengintegrasikan usaha sebuah organisasi dalam mencapai misinya. Diperlukan kemampuan kepala sekolah untuk mendesiminasikan visi kepada seluruh warga sekolah. Ini adalah skill yang mutlak dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Pondi (seperti dikutip Smyth, 1989) mengatakan:

Kekuatan sebenarnya dari Martin Luther King bukan hanya karena dia punya visi

yang kuat, tetapi dia juga mendeskripsikannya dengan baik, yang akhirnya visi itu

menjadi milik umum dan bisa diakses jutaan orang. Dua kapasitas ini... membuat

sesuatu masuk akal dan mengungkapkannya dalam bahasa yang mudah dicerna

masyarakat, membuat orang itu mempunyai pengaruh yang besar (hal. 181)

Ketika visi itu telah menjadi milik bersama, kita bisa mengetahui kesenjangan antara cita-cita dan realitas yang ada. Kesenjangan ini, pada gilirannya, akan memberi energi kepada seluruh komponen sekolah untuk berusaha keras mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau memberi layanan yang terbaik kepada konsumennya, dalam hal ini: murid, wali murid, masyarakat sekitar sekolah, dan Dinas Pendidikan selaku stake holder sekolah.

Dengan menerapkan prinsip ini, mengembangkan visi bersama, saya memandang diri saya sebagai pemimpin kharismatis- transformasional yang berusaha mengenalkan dan menginduksikan visi kepada seluruh warga sekolah. Dengan adanya visi bersama ini, segala potensi yang ada disekolah bisa dimanfaatkan untuk memberi layanan yang terbaik pada siswa dan akhirnya meningkatkan mutu keluaran sekolah.

Memberdayakan Komunitas Sekolah

“But can dreams really come true? Or do they remain dreams even if men enact them in waking life?”

(On de Gaule. Observer, 27 September 1959)

Setelah berhasil mendesiminasikan visi sekolah kepada seluruh komponen sekolah, hal berikut yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah adalah memberdayakan seluruh komponen sekolah. Hal ini menjadi penting karena sebaik apa pun visi yang dimiliki sekolah jika tidak ada pelaksanaan atau aktualisasinya, visi itu akan hanya menjadi mimpi di siang bolong. Karena itu, begitu visi sudah terdesiminasikan, tugas berikut dari kepala sekolah adalah menjamin visi tiu menjadi kenyataan. Di sini, kemampuan memberdayakan seluruh komponen sekolah sangat diperlukan. Seorang kepala sekolah harus melibatkan seluruh komponen sekolah bila ingin mimpi-mimpinya menjadi kenyataan, dengan kata lain kepala sekolah memberdayakan seluruh komponen sekolah karena bila tidak ada pemberdayaan seluruh komponen sekolah visi itu akan hanya menjadi sekedar mimpi yang tanpa kenyataan (de Vries 1995). Pemberdayaan ini diaktualisasikan dengan memberikan pengetahuan, keterampilan, kewenangan, kebebasan, sumberdaya, dan kesempatan kepada seluruh komponen sekolah untuk mewujudkan potensi yang dimiliknya (Gill, 2006) dan ini memerlukan sense of generativity, yaitu kemauan kepala sekolah untuk membantu anak buahnya untuk berkembang dan maju (de Vries, 1995). Dalam pengertian ini, seorang pemimpin harusnya lebih pull on bukanya push on, yakni pemimpin itu seharusnya menarik minat bawahannya untuk bekerja keras dengan cara menginduksikan visi yang menarik dan menantang lantas memotivasinya untuk mencapainya, bukannya menjadikan reward and punishment sebagai dasar pemberdayaan bawahannya.

Membagi Kepemimpinan di Sekolah

“ A leader has to let people bear the weight of responsibility”

Jan Carlzon (CEO of Scandinavian Airlines)

Dalam kondisi sekolah yang penuh tantangan baik internal maupun eksternal, meletakkan tanggungjawab untuk mengatasinya kepada seorang kepala sekolah bukan hanya naif dan tidak masuk akal tapi juga berbahaya (Gill 2006). Guru sudah saatnya menampilkan peran kepemimpinannya dan terlibat penuh pada agenda-agenda penting sekolah. Seperti dikatakan Crowther (2002) tantangan yang dihadapi sekolah masa post industial memerlukan kemampuan guru dalam memimpin. Dan, pendistribusian tanggungjawab kepemimpinan di sekolah akan menjamin layanan pendidikan yang berkualitas bagi siswa (Neuman & Simmons 2000).

Konsep guru sebagai pemimpin ini akan berjalan dengan baik jika guru mampu mengembangkan kepimimpinan kolaboratif dengan koleganya (Danielson 2006) serta mengembangkan rasa saling percaya (trust), hubungan yang baik, dan rasa percaya diri (confidence) (Miles, Saxl, dan Lieberman seperti dikutip Lieberman & Miller 2005).

Dalam konsep ini, kepala sekolah diharapkan untuk bisa membangun rasa saling percaya di antara anak buah buahnya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membiasakan anak buahnya untuk bekerja dalam tim dan menjamin semua suara dari bawah di dengar. “Tidak ada ide yang jelek.” adalah jargon yang selalu didengungkan dalam setiap pertemuan, dengan demikian tidak ada rasa ketakutan bagi siapa saja di sekolah untuk mengungkapkan idenya. Hal ini pada gilirannya akan akan memunculkan mutiara-mutiara terpendam yang sebelumnya tidak pernah tergali dan memberi rasa percaya diri pada anak buah. Rasa percaya diri ini adalah faktor yang sangat penting bagi warga sekolah untuk mengaktualisasikan peran kepemimpinannya.

Membudayakan Masayarakat Belajar Profesional

“If you stop growing today, you stop teching tomorrow” (Kresnayana Yahya)

Jika kita ingin meningkatkan pencapaian atau prestasi siswa, maka guru dan komponen sekolah yanhg bekerja membantu siswa harus selalu belajar dan mengembangkan kapasitasnya. Keberadaan masyarakat belajar profesial, semacam Musyawarah Guru Mata Pelajaran di Sekolah (MGMPS), di sekolah akan menjamin budaya belajar terus-menerus di antara warga sekolah (Neuman & Simmons, 2000). Itulah mengapa keberadaan masayarakat belajar profesional di sekolah sangatlah penting jika fokus sekolah meningkatkan prestasi siswa. Di sekolah yang masyarakat belajarnya berjalan dengan baik, guru akan bekerja bersama secara lebih efektif dan lebih punya kepedulian kepada belajar siswanya (Kruse, Louis, Bryk 1994). Dan seperti dikatakan Herrity dan Morales (2005) bahwa untuk meningkatkan keberhasilan siswa dan mencapai tujuan sekolah, pemberdayaan seluruh komponen sekolah, termasuk di dalamnya staf/karyawan, guru, orang tua, dan juga siswa sangat penting. Masyarakat belajar adalah salah satu wahana untuk mewujudkannya.

Dalam konsep ini, kepala sekolah hendaknya mendorong terbentuknya masyarakat belajar di sekolah, yang bukan hanya terbatas pada guru-guru tetapi juga komponen sekolah lainnya. Hal ini bisa diperkuat dengan pemberian fasilitas-fasilitas yang diperlukan, akses komunikasi yang mudah, dan yang lebih penting adalah kesempatan untuk mewujudkannya.

Masyarakat belajar profesional ini akan bisa berjalan apabila kepemimpinan di sekolah mendukung, yakni memberi ruang bagi guru untuk mengambil resiko mencobakan ide-ide barunya sebagai hasil diskusi dalam masyarakat belajar yang diikutinya. Dengan kata lain, masyarakat belajar profesional ini akan berjalan bila kepemimpinan di sekolah itu terbagi dan pembuatan keputusan bukan monopoli kerpala sekolah.

Dengan memberi peluang kepada warga sekolah untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan pada giliranya juga akan bisa meningkatkan produktifitas sekolah. Inovasi- inovasi baru akan muncul karena mereka tidak harus lagi menunggu instruksi dari kepala sekolah untuk mengaktualisasikan ide-idenya

Membuat Perbedaan (Making a difference)

“Gunung tidak perlu tinggi yang penting ada dewanya, sungai tidak perlu dalam yang penting ada naganya” (Mochtar Riady)

Hal lain yang penting dilakukan oleh seorang kepala sekolah adalah making a difference, yaitu memunculkan sesuatu yang khas dari sekolahnya untuk dijadikan sebagai ikon sekolah. Sehingga sekolah tidak hanya menjadi lembaga yang didengar oleh masyarakat tetapi juga menjadi lembaga yang diakui bahkan dicari keberadaannya. Hal ini tentu saja perlu kerja keras bahkan mungkin lompatan besar untuk bisa memunculkan ikon tersebut. Sehingga sekolah yang dulu dikelola dengan apa adanya sekarang bisa menjadi sekolah yang ada apanya, sehingga banyak masyarakat yang mencarinya.

Membuat sesuatu yang berbeda tentang sekolah bisa dilakukan melalui analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki sekolah (analisis SWOT). Dari hasil analisis itu bisa ditentukan program sekolah yang bisa menjadi unggulan sekolah, yang akhirnya sekolah akan dilirik oleh masyarakat sekitarnya.

Jadi setelah visi bersama dimiliki, seluruh komunitas sekolah diberdayakan, kepemimpinan sekolah terdistribusikan, dan masyarakat belajar profesional dibudayakan, kini saatnya untuk memnfaatkan secara maksimal potensi yang dipunyai sekolah. Kepala sekolah dan seluruh komponen sekolah mengenalisis kekuatan dan kelemahan lembaganya: sumberdaya manusianya, sumberdaya kapitalnya, demikian juga sumberdaya masyarakatnya. Setelah itu kepala sekolah dan komponen sekolah lainnya perlu juga mencermati peluang dan tantangan yang dimiliki sekolah. Termasuk di dalamnya mencermati kompetitor yang ada di sekitarnya. Karena seperti dikatakan de Vries (1995) selalu waspada terhadap kompetitor yang ada di sekitar kita adalah salah satu strategi yang jitu untuk selalu fokus berusaha meningkatkan mutu pelayanan kepada stake holder dan mempertahankan keunggulan kompetitif kita.

Dalam konsep di atas, kepala sekolah adalah pemimpin strategis (strategic leader) yang ingin mengembangkan dan meningkatkan mutu dan prestasi sekolah dengan cara memanfaatkan informasi dan sumberdaya yang ada di dalam atau di luar lembaga sekolah.

Tabel berikut ini akan menyimpulkan kepemimpinan yang akan saya lakukan bila saya menjadi kepala sekolah yang merupakan realisasi dari visi saya, yaitu: terwujudnya kepemimpinan bersama di sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas bagi siswa.

Tabel 1. My Personal Leadership Framework

terwujudnya kepemimpinan bersama di sekolah untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas bagi siswa.

Membangun visi bersama

  • Mempertimbangkan trend di masyarakat
  • Mempertimbangkan nilai-nilai dan kepercayaan di masyarakat
  • Berbagi nilai-nilai dan kepercayaan
  • Mendiseminasikan visi

Pemberdayaan komunitas sekolah

  • Melibatkan seluruh komponen sekolah
  • Memberikan pengetahuan dan keterampilan
  • Memberikan wewenang dan kebebasan
  • Memberikan kesempatan dan sumberdaya
  • Memberikan motivasi

Membagi Kepemimpinan di sekolah

  • Melibatkan guru dalam pengambilan keputusan
  • Mendistribusikan tanggungjawab
  • Mengembangkan rasa saling percaya
  • Memupuk rasa percaya diri

Membuadayakan masyarakat belajar

  • Mendorong terbentuknya masyarakat belajar
  • Memberikan fasilitas-fasilitas
  • Memberikan kemudahan akses informasi
  • Memberi peluang munculnya ide-ide baru

Membuat Perbedaan

  • Mencermati kekuatan dan kelemahan
  • Mencermati peluang dan tantangan
  • Menetapkan prioritas
  • Merencanakan program unggulan

Penutup

Mendiskusikan kepemimpinan untuk menuju sekolah yang efektif telah membawa kita dalam perjalanan memahami bukan hanya orang-orang yang ada di sekolah tetapi juga memahami proses-proses yang terjadi di sana. Walaupun tidak ada satu jenis kepemimpinan yang cocok untuk seluruh sekolah, namun kita bisa melihat bahwa apabila yang menjadi fokus adalah peningkatan kualitas dan prestasi siswa maka kepemimpinan yang melibatkan semua komponen sekolah lebih berpeluang untuk berhasil. Karena jenis kepemimpinan ini akan menjamin terkembangkannya visi bersama, terberdayakannya komunitas sekolah, terdistribusikanya kepemimpinan di sekolah, terbentuknya masyarakat belajar profesiaonal, terciptanya ikon keunggulan sekolah. Semua itu adalah faktor-faktor penting terwujudnya sekolah yang efektif, yang berkualkitas mutu lulusannya. Sesuatu yang enak didiskusikan tapi perlu kemauan yang keras untuk menerapkannya.

Daftar Pustaka

Crowther, F, Kagaan, SS, Ferguson, M & Hann, Developing teacher leaders: How teacher

enhances school success, Corwin Press, Inc. California.

Danielson, C, 2006, Teacher leadership that strengthens professional practice, Association for

Supervision and Curriculum Development, Virginia.

De Vries, K 1995, ‘The Leadership Mystique’. Leading and Managing, 1, 193-210

Gill, R 2006, Theory and practice of leadership, Sage Publication, London

Herrity ,VA & Morales, P 2004, Creating meaningful opportunities for collaboration. Sage

Publication, Inc. California.

Komariah, A & Triatna, C, 2008, Visionary leadership: Menuju sekolah efektif, Bumi Aksara,

Jakarta.

Kruse, S., Louis, KS & Bryk, A 1994, ‘Building professional community in schools’. Issue

Report. Published

Lieberman, A & Miller, L 2005, ‘Teachers as leaders’. The Educational Forum, 69, 151-162.

Neuman, M & Simmons, W 2000, ‘ Leadership for student learning’. Phi Delta Kappan, 82,

9-12

Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan

pendidikan Dasar dan Menengah.

Senge, PM 1990, ‘The leaders’ new work: Building learning organization’. Sloan

Management Review, 7 – 23.

Smyth, J 1989 ‘A’pedagogical’ and ‘educative’ view of leadership’. In J. Smyth (Ed) Critical

perspectives on educational leadership. The falmer Press. London.

Mendidik Anak Bangsa di Luar Negeri

Terhitung sejak tahun lalu, saya mendapatkan amanah untuk menjadi kepala sekolah di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR), sekolah kedutaan di ...