Thursday, December 30, 2010

Ruang Lingkup UN Bahasa Inggris SMP dan Strategi Penyelsaaian Soalnya

Sekilas tentang Ujian Nasional bahasa Inggris SMP

Soal Ujian Nasional bahasa Inggris SMP terdiri dari 50 soal jenis pilihan ganda yang harus diselesaikan siswa dalam waktu 120 menit. Dari 50 soal tersebut 85 persen soal atau sekitar 43 soal berupa soal-soal bacaan dan selebihnya adalah soal-soal menulis (writing). Dengan demikian siswa harus mampu menggunakan strategi yang tepat untuk menyelesaikan soal-soal tersebut agar tidak kehabisan waktu untuk mengerjakan soal.

Berikut ini akan disajikan lingkup kompetensi yang diujikan dan strategi penyelesaiannya serta praktik pengerjaan soalnya.

Kompetensi dan Jenis Teks Yang Diujiakan

Keterampilan

Kompetensi Yang Diujikan

Jenis Teks

Reading

  • Menemukan gambaran umum isi teks/paragraf
  • Menemukan pikiran utama yang tersirat atau tersurat
  • Menemukan informasi tertentu/khusus
  • Menemukan informasi rinci tersurat
  • Menemukan informasi tersirat
  • Menemukan rujukan kata
  • Menentukan makna kata/frasa/kalimat berdasarkan konteks kalimat

Teks Fungsioanl Pendek:

  • Caution
  • Greeting Card
  • Message
  • Announcement
  • Invitation
  • Advertisement
  • Label
  • Letter

Genre:

  • Descriptive
  • report
  • Recopunt
  • Narrative
  • Procedure

Writing

  • Menentukan kata yang tepat untuk melengkapi teks
  • Menentukan susunan kata yang tepat untuk membuat kalimat
  • Menentukan susunan kalimat yang tepat untuk membuat paragraf

Report

Langkah Umum Mengerjakan Soal Bacaan

  1. Baca teks sekilas (survey the text) --- untuk mengetahui isi teks secara umum. Hal ini dilakukan dengan melihat judul teks, kata yang dicetak tebal atau dicetak miring, dan gambar atau ilustrasinya, bila ada.

  1. Baca pertanyaan (read the questions). Hal ini dilakukan untuk mengetahui kompetensi apa yang diujikan dan untuk menentukan strategi yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan.

  1. Cari Jawaban. Hal ini dilakukan dengan menerapkan strategi yang sudah ditentukan pada langkah kedua.

Contoh Soal Bacaan dan Strategi Penyelesaiannya

  • Menemukan gambaran umum isi teks/paragraf

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • What is the text above about?
  • The text above tells us about ....
  • The third paragraph tells us that ...
  • Etc.
  • Baca kalimat pertama masing- masing paragraf secara intensif karena pikiran utama paragraf biasanya terletak pada kalimat pertama.
  • Baca sisanya secara sekilas
  • Simpulkan untuk menetukan jawabannya.

  • Menemukan pikiran utama yang tersirat atau tersurat

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • What is the the fisrt paragraph about?
  • The fisrt paragraph tells us about ....
  • Etc.
  • Baca kalimat pertama paragraf yang dimaksud secara intensif karena pikiran utama paragraf biasanya terletak pada kalimat pertama.
  • Baca sisanya secara sekilas untuk mengkonfirmasi
  • Simpulkan untuk menetukan jawabannya.

  • Menemukan informasi tertentu/khusus

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • When did Liza meet the teacher in the office?
  • Who helped the writer find the antic statue?
  • We need ... to make ice cream.
  • Tentukan kata kunci dari stem soal. Kata kunci adalah kata yang kita duga akan mengarahkan kita pada jawaban.
  • Cari kata kunci atau sinonimnya di teks dengan membaca cepat.
  • Baca kalimat atau frasa dalam teks yang ada kata kunci atau sinonimya.
  • Tentukan jawabannya.

  • Menemukan informasi rinci tersurat

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • Which statement is NOT TRUE according to the text?
  • The following statemets are true according to the text, except ...
  • Etc.
  • Baca option atau pilihan jawaban
  • Tentukan kata kunci pada option tersebut.
  • Cari kata kunci dalam teks dengan cara membaca cepat.
  • Baca kalimat atau frasa dalam teks yang ada kata kunci atau sinonimya.
  • Tentukan jawabannya.

  • Menemukan informasi tersirat

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • How long did it take to restore the Borobudur temple?
  • A sportman will need ... a businessman
  • Etc.

  • Jawaban tidak bisa ditemukan secara langsung dalam teks. Siswa harus menyimpulkan berdasarkan informasi yang diperoleh dari teks.

  • Menemukan rujukan kata.

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • What does the word ‘they’ in paragraph 2 line 4 refers to?
  • The word ‘it’ in the first paragraph line 3 refers to ....
  • Etc.

  • Cari kata yang ditanyakan dalam teks. Pada contoh di samping kata ‘they’ dan ‘it’.
  • Baca kalimat atau bagian teks yang posisinya sebelum kata ditanyakan.
  • Tentukan kata/ide yang dirujuk.

  • Menentukan makna kata/frasa/kalimat berdasarkan konteks kalimat.

Contoh Soal

Strategi Penyelesaian

  • “When he glanced back, his wallet has vanished” (last paragraph)

The underlined word has the same meaning as ....

  • “It’s truly magnificent sight for sure...” (paragraph 1)

The synonym of the underlined word is ...

  • Soal jenis ini menguji kekayaan kosakata siswa. Kalau tidak tahu artinya, coba terka arti kata tersebut dengan melihat konteks kalimatnya.
  • Bandingkan terkaanmu dengnan pilihan jawaban yang disediakan.
  • Tentukan jawabanya.

Contoh Soal Menulis dan Strategi Penyelesaiannya

  • Menentukan kata yang tepat untuk melengkapi teks:
    1. Baca teks secara keseluruhan untuk mengetahui topik dari teks sehingga kita bisa menerka kira-kira kosakata apa yang mungkin dibutuhkan.
    2. Tentukan jenis kata yang diperlukan untuk mengisi rumpang dengan melihat kata sebelum dan sesudah rumpang
    3. tentukan jawabannya.

  • Menentukan susunan kata yang tepat untuk membuat kalimat

1. Ingat-ingat susunan kalimat yang baku dalam bahasa Inggris. Misalnya, letakkan adjective sebelum noun yang diterangkan, adverb of frequency seperti: always, usually, dsb selalu terletak sebelum kata kerja, dsb.

2. Gunakan pengetahuanmu tentang penggunaan huruf kapital, question mark (tanda-tanya) untuk membantu kamu menentukan jawaban.

  • Menentukan susunan kalimat yang tepat untuk membuat paragraf

1. Tentukan kalimat yang paling mungkin menjadi kalimat pertama paragraf, misalnya: kalimat yang mengandung pernyataan paling umum dan kalimat yang tidak dimulai dengan kata ganti orang (personal pronoun).

2. Tentukan kalimat yang menurut pendapatmu harus berurutan.

3. Gunakan time connectors seperti: then, after that, atau time signal untuk membantumu mengurutkan kalimat.

Demonstration 1 – Text and Questions

Jangan baca dulu teks dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Langsung saja baca bagian Strategi Menjawab yang akan menunjukkan kepadamu cara yang paling efisien untuk menjawab pertanyaan bacaan.

Text 1 (Report) --- soal Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP tahun pelajaran 2009/2010 Paket 49 B

Guava is a plant in the myrtle family (Myrtaceae) genus Psidium. It is a native to Mexico and Central America, part of the Caribbean and some parts of India. The guava tree is not big. It is about 33 feet with spreading branches. The bark is smooth with green or reddish brown color. The plant’s branches are close to the ground. Its young twigs are soft. It has hard elliptic leaves. It is about 2 – 6 inches long and 1 – 2 inches wide. The flowers are white, with five petals and numerous stamens.

Guava is cultivated in many tropical and subtropical countries for its edible fruit. Guava fruit, usually 2 to 4 inches long, is round or oval depending on the species. Varying between species, the skin can be any thickness, it is usually green when unripe, but becomes yellow or maroon when ripe. The flesh of guava fruit is sweet or sour. The color of the flesh may be white, pink, yellow, or red, with the seed on the central part of the flesh. The seeds are numerous but small. In some good varieties, they are edible. Actual seed counts have ranged from 112 to 535. Guava fruit is rich with vitamin A and C, omega-3 and omega-6, fatty acids and high levels of dietery fibre.

  1. What is the text about?
    1. The nutricious value of Guava Fruit.
    2. The certain variety of of Guava.
    3. The Guava plant in general.
    4. The special edible fruit.

  1. Which are the best words used to describe guava seed?
    1. Thick and round.
    2. Sweet and juicy.
    3. Numerous and small.
    4. Sour and rough.

  1. “Guava fruit, usually 2 to 4 inches long, is round or oval depending on the species.”

From the sentences above we can conclude that ....

    1. Guava fruits vary in shape.
    2. All guava fruits in general have the same shape.
    3. Guava fruit is not big in certain species only.
    4. Certain species of guava are unusual in shape.

  1. The main idea of paragraph two is ...
    1. Guava is grown for its edible fruit.
    2. Guava’s skin is thick.
    3. Guava consists of shrubs and small trees.
    4. Guava is planted in all countries.

Strategi Menjawab

Sebelum Anda menjawab pertanyaan:

Langkah 1: Baca teks sekilas (survey the text)

Dengan membaca sekilas kita tahu teks itu mendeskripsikan guava secara umum, jadi jenis teksnya adalah teks report.

Soal No. 1

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan gambaran umum isi teks.

Langkah 3: Cari jawaban.

Cara terbaik untuk mencari jawaban pertanyaan ini adalah dengan membaca kalimat pertama masing-masing paragraf. Dari membaca kalimat pertama paragraf satu dan paragraf dua, kita tahu teks itu membahas guava secara umum. Jadi jawaban yang dipilih adalah C (Guava plant in general).

Soal No. 2

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan informasi tertentu/khusus. Anda mencari informasi tertentu dari teks. Kata kunci untuk pertanyaan ini adalah seed. Anda harus mencari kata yang mendeskripsikan guava seed.

Langkah 3: Cari jawaban.

Cara terbaik untuk mencari jawaban pertanyaan ini adalah dengan mencari kata kunci guava seed di teks dan kata yang mendeskripsikan guava seed. Kata ini ada pada paragraf 2, yaitu: The seed are numerous but small. Jadi, jawaban yang dipilih adalah:C (Numerous and small).

Soal No. 3

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan informasi tersirat. Anda harus menyimpulkan isi kalimat yang ditentukan dalam soal.

Langkah 3: Cari jawaban.

Kesimpulan yang bisa kita ambil setelah membaca kalimat itu adalah: bentuk guava fruit bisa bulat bisa pula lonjong tergantung spesiesnya, jadi bervariasi. Jadi, jawaban yang dipilih:A (Guava seeds vary in shape)

Soal No. 4

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan pikiran utama paragraf 2. Anda harus membaca kalimat pertama paragraf dua secara intensif, dan baca sisanya secara sekilas.

Langkah 3: Cari jawaban.

Dari membaca kalimat pertama paragraf kedua, kita bisa simpulkan bahwa jawaban yang benar adalah: A (Guava is grown for its edible fruit).

Demonstration 2 – Text and Questions

Jangan baca dulu teks dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Langsung saja baca bagian Strategi Menjawab yang akan menunjukkan kepadamu cara yang paling efisien untuk menjawab pertanyaan bacaan.

Text 2 (narrative) --- soal Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP tahun pelajaran 2009/2010 Paket 49 B

Long time agi in West Java, lived a woman named Dayang Sumbi. She lived alone in the forest.

One day Dayang sumbi was quilting when suddenly, her quilt fell off from her house. Then she prayed to God, “If a man picks up my quilt, he will be my husband. If a woman, she will be my sister.” Then, a male dog picked it up. For keeping her words, Dayang Sumbi married the dog and called him Tumang. Dayang Sumbi gave birth to a baby, named him Sangkuriang, but he never told him who his father was.

One day, Sangkuriang was hunting with Tumang in the forest, and he found nothing. He blamed Tumang for his failure and killed him. When dayang Sumbi knew that, she hit Sangkuriang’s head with a big spoon and asked him to go.

Many years later, the wandering Sangkuriang found a house in the forest, and an old beautiful woman was in the house. The woman, dayang Sumbi, recognized the adventurer as sangkuriang. Sangkuriang forced her to marry him and Dayang Sumbi asked him to make a vast boat in one night. In the night, Sangkuriang called his friends, ghosts and forest fairies to help him. Dayang Sumbi feared the boat could be finished on time, so she asked some women nearby to help her. The women hit the grains with grain puncher to make noise which disturbed the ghosts and the fairies. The ghosts and the fairies ran away before completing the boat. Sangkuriang was very angry. He kicked away the boat upside down, and it turned into a mountain called Tangkuban Perahu. It means the downside boat, which stood in the north of Bandung.

  1. Why did Dayang Sumbi ask the women to punch the grain?
    1. She was afraid the boat would be completed in one night.
    2. She wanted to help Sangkuriang making a boat.
    3. She wanted the boat to be completed soon.
    4. She was angry with sangkuriang.

  1. Why did sangkuriang kick away the boat upside down?
    1. He failed to make the boat.
    2. He was disappointed with the ghosts and fairies.
    3. He wanted to make a mountain from a boat.
    4. He wanted to show his stregth to Dayang Sumbi

  1. “Sangkuriang forced her to marry him and Dayang Sumbi asked him to make a vast boat in one night.”

What do the underlined words mean?

a. Very expensive b. Very luxurious c. Extremely large d. Extremely beautiful

  1. What’s the moral value of the story?
    1. Do the work patiently without asking for someone’s help.
    2. Tell the truth to avoid something unexpected.
    3. Don’t blame someone for our failure.
    4. Don’t trust ghosts and fairies.

Strategi Menjawab

Sebelum Anda menjawab pertanyaan:

Langkah 1: Baca teks sekilas (survey the text)

Dengan membaca sekilas kita tahu teks itu mendeskripsikan guava secara umum, jadi jenis teksnya adalah teks report.

Soal No. 1

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan gambaran umum isi teks.

Langkah 3: Cari jawaban.

Cara terbaik untuk mencari jawaban pertanyaan ini adalah dengan membaca kalimat pertama masing-masing paragraf. Dari membaca kalimat pertama paragraf satu dan paragraf dua, kita tahu teks itu membahas guava secara umum. Jadi jawaban yang dipilih adalah C (Guava plant in general).

Soal No. 2

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan informasi tertentu/khusus. Anda mencari informasi tertentu dari teks. Kata kunci untuk pertanyaan ini adalah seed. Anda harus mencari kata yang mendeskripsikan guava seed.

Langkah 3: Cari jawaban.

Cara terbaik untuk mencari jawaban pertanyaan ini adalah dengan mencari kata kunci guava seed di teks dan kata yang mendeskripsikan guava seed. Kata ini ada pada paragraf 2, yaitu: The seed are numerous but small. Jadi, jawaban yang dipilih adalah:C (Numerous and small).

Soal No. 3

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan informasi tersirat. Anda harus menyimpulkan isi kalimat yang ditentukan dalam soal.

Langkah 3: Cari jawaban.

Kesimpulan yang bisa kita ambil setelah membaca kalimat itu adalah: bentuk guava fruit bisa bulat bisa pula lonjong tergantung spesiesnya, jadi bervariasi. Jadi, jawaban yang dipilih:A (Guava seeds vary in shape)

Soal No. 4

Langkah 2: Baca pertanyaan.

Pertanyaan ini menanyakan pikiran utama paragraf 2. Anda harus membaca kalimat pertama paragraf dua secara intensif, dan baca sisanya secara sekilas.

Langkah 3: Cari jawaban.

Dari membaca kalimat pertama paragraf kedua, kita bisa simpulkan bahwa jawaban yang benar adalah: A (Guava is grown for its edible fruit).

Demonstration 3 – Text and Questions

Jangan baca dulu teks dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Langsung saja baca bagian Strategi Menjawab yang akan menunjukkan kepadamu cara yang paling efisien untuk menjawab pertanyaan bacaan.

Text 3 (descriptive) --- soal Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP tahun pelajaran 2006/2007 Paket 49 B

The Indonesian Archipelago

Indonesia is an archipelago. It is the largest one. It lies between the Pacific Ocean and the Indian Ocean. This archipelago is flanked by two continents namely Asia and Australia.

This archipelago consists of 13,667 islands. Its total land area is 1,905,453 square kilometers. From east to west it stretches 5,152 kilometers and from north to south 1,770 kilometers.

There are five main islands in Indonesia. They are java, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, and Papua, the western part of New Guinea. The capital city of Indonesia is Jakarta. This city becomes the centter of government and economic activities.

The climate in Indonesia is tropical with high humidity, slight changes in temperature and heavy rainfall. It is because indonesia lies along the equator. From November to February this country undergoes the wet season. The dry season prevails from June to September.

We can see a large variety of plant and animal’s life. Some species are endemic. They live in an island or a part of large island. Some wildlife reserves have been established by the government throughout the country. Those wildlife reserves are used to protect the rare species from extinction. The rare animals are the orangutan primates in Sumatra and Kalimantan, the komodo dragon in Komodo island, the one horned- rhinoceros in West Java, the pig deer and anoa, the dwarf buffalo in Sulawesi and many different species of monkeys and birds.

  1. Indonesia has ... islands

a. 1,770 b. 5,152 c. 13,667 d. 1,905,453

  1. The main idea of paragraph four is ...
    1. Indonesia has a tropical climate.
    2. Indonesia has high humidity.
    3. Indonesia has high rainfall.
    4. Indonesia lies along the equator line

  1. How is the weather like from November to February?

a. Hot b. Cool c. Warm d. Bright

  1. Why does the government set up the wildlife reserves? To protect the ...
    1. orangutans
    2. komodo dragons.
    3. one horned-rhinoceros
    4. rare species

Demonstration 4 – Text and Questions

Jangan baca dulu teks dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Langsung saja baca bagian Strategi Menjawab yang akan menunjukkan kepadamu cara yang paling efisien untuk menjawab pertanyaan bacaan.

Text 4 (recount) --- draft bank soal Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP tahun pelajaran 2007/2008

Tomorrow is a holiday and it was the night of the fair. The children at Tim’s school were really excited. They ran down the path out of school as fast as they could. Tim ran all the way home, and changed into his jeans and sneakers. He ate his dinner quickly, and sat at the window waiting for his dad to come. He couldn’t wait for six o’clock when the fair would begin. He had been saving his pocket money for weeks.

When Tim and his family arrived at the fair, it had just opened. Already there were crowds of people swarming around foodstall, displays and dozens of rides. “Can I buy some chips and a drink?” asked Tim.

“Okay” sad Tim’s dad. “But hang on tightly to your wallet- there is a lot of people around.”

“I’ll be fine’, said Tim impatiently.

He found a foodstall, and ordered his food. When the man brought his chips and drink, without thinking, Tim put his wallet on the counter and picked up his food and drink. When he glanced back, his wallet has vanished! Tim desperately looked around him, but it was no use. If only he had listened to his dad. All his pocket money was gone.

(Source: Exploring Writing by Sue Garnett)

1. The fair started …

a. in the morning b. in the afternoon c. in the evening d. after school

2. Which statement is NOT TRUE according to the text?

a. Tim went to school by bicycle

b. The fair began at 6 p.m.

c. There are so many people at the fair

d. Tim lost his wallet at the fair

3. When he glanced back, his wallet has vanished! (last paragraph)

The underlined word means ….

a. moved b. disappeared c. stolen d. changed

Demonstration 5 – Text and Questions

Jangan baca dulu teks dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Langsung saja baca bagian Strategi Menjawab yang akan menunjukkan kepadamu cara yang paling efisien untuk menjawab pertanyaan bacaan.

Text 5 (procedure) --- draft bank soal Ujian Nasional Bahasa Inggris SMP tahun pelajaran 2007/2008

Read the text and answer questions 1 to 3

A Cheese Omelette

Ingredients

1 egg, 50 g cheese, ¼ cup milk, 3 tablespoons cooking oil, a pinch of salt and pepper

Steps

1. Crack an egg into a bowl

2. Whisk the egg with a fork until it is smooth

3. Add milk and whisk well

4. Grate the cheese into the bowl and stir

5. Heat the oil in a frying pan

6. Pour the mixture into the frying pan

7. Turn the omelet with a spatula when it browns

8. Cook both sides

9. Place on a plate; season with salt and pepper

10. Eat while warm.

1. Before heating the oil into a frying pan, we need to … the cheese into the bowl and stir it.

a. pour b. whisk c. add d. grate

2. We need the following utensils to make a cheese omelette, except a ….

a. cup b. bowl c. frying pan d. spatula

3. Crack the egg into the bowl.

The underlined word has the same meaning as ….

a. put b. crash c. break d. destroy

Monday, July 7, 2008

Kepemimpinan Sekolah Yang Kuat

Gerbong mutasi dan promosi kepala sekolah untuk tingkat SMP kembali bergerak di Jombang. Ada lima wajah baru yang segera mengemban amanah menjadi kepala sekolah. Semuanya ditempatkan di daerah pinggiran, di sekolah yang masih dalam pencarian identitas. Sebagian yang yang lain hanya bertukar tempat atau sekedar reposisi saja (Radar Mojokerto/Rabu, 19 Maret 2008).

Setiap kali ada pergantian kepemimpinan di sekolah, selalu diikuti oleh kecemasan dan rasa penasaran di pihak guru dan juga karyawan sekolah? Pemimpin baru seperti apakah yang akan menakhodai sekolah mereka beberapa tahun ke depan? Akankah ada perubahan-perubahan kebijakan sekolah yang drastis? Akankah mereka bekerja dalam irama yang berbeda dengan sebelumnya? Dsb. Kecemasan dan rasa penasaran itu wajar terjadi ketika ada pergantian kepemimpinan di sekolah. Mereka takut sekolah mereka akan menjadi sekolah seperti yang dideskripsikan Andy Hargraves dalam bukunya “Leadership Succession”, “the school is like early flying machine: repeatedly crashing just before taking off. Bahwa sekolah mereka laksana kapal terbang jaman baheula: yang selalu mengalami kecelakaan beberapa saat sebelum tinggal landas.

Menyadari kecemasan-kecemasan dan rasa penasaran di atas, penulis menyampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang kepala sekolah agar kecemasan-kecemasan itu tidak endemik di setiap pergantian kepemimpinan sekolah dan usaha peningkatan mutu yang berkelanjutan tetap bisa terlaksana di sekolah siapapun yang sedang memimpin saat itu. Beberapa hal yang penulis maksudkan itu adalah: mengembangkan visi bersama, pemberdayaan komunitas sekolah, membagi kepemimpinan di sekolah, membuat perbedaan (making a difference).

Memiliki sebuah visi adalah ciri utama yang harus melekat pada seorang pemimpin. Visi ini akan menjadi panduan ke mana organisasi sekolah ini akan berjalan untuk mencapai tujuannya, yaitu: memberi pelayanan terbaik kepada konsumennya. Sebagian besar pencapaian gemilang sebuah organisasi adalah karena kekuatan visi yang dimiliki pemimpinnya. Jadi, hal pertama yang harus dilakukan seorang pemimpin sekolah adalah menentukan visi sekolah. Karena seperti dikatan de Vries dalam bukunya The Leadership Mystique, bahwa tidak akan ada kepemimipinan tanpa adanya visi.

Di dalam menentukan visi, harus mempertimbangkan nilai-nilai di masyarakat, trend yang ada di lingkungan sekolah dan global, dan juga kebijakan nasional dalam bidang pendidikan. Dengan kata lain kita harus mempertimbangkan realitas yang ada dalam menentukan visi sekolah. Visi yang dikembangkan tanpa mempertimbangkan realitas hanya akan membuahkan sinisme belaka. Dan yang lebih penting, visi sekolah tidak hanya dimiliki oleh kepala sekolah. Visi itu harus dimiliki oleh seluruh komponen sekolah bila cita-cita yang diinginkan dalam visi itu ingin menjadi sebuah kenyatan. Di sini, diperlukan kemampuan kepala sekolah untuk mendesiminasikan visi sekolah kepada seluruh komponen sekolah .

Ketika visi sekolah telah dipahami dan menjadi milik seluruh komponen sekolah, kesenjangan antara cita-cita dan realitas yang ada akan terlihat. Pada gilirannya, hal ini akan memberi energi dan semangat kepada seluruh komponen sekolah untuk berjuang mencapai cita-cita dan tujuan sekolah.

Setelah berhasil mendesiminasikan visi sekolah kepada seluruh komponen sekolah, hal berikut yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah memberdayakan seluruh komponen sekolah. Hal ini menjadi penting karena sebaik apapun visi sekolah bila tidak ada pelaksanaan atau aktualisasinya, visi itu akan hanya menjadi mimpi di siang bolong. Oleh sebab itu, begitu visi sudah terdesiminasikan, tugas berikut dari kepala sekolah adalah menjamin visi itu menjadi kenyataan. Di sini, kemampuan memberdayakan seluruh komponen sekolah sangat diperlukan. Pemberdayaan semua komponen sekolah ini bisa diaktualisasikan dengan jalan membekali guru dengan pengetahuan, keterampilan, otoritas, sumberdaya, dan kesempatan untuk mengaktualisasikan potensinya. Hal ini memerlukan sense of generativity, yaitu kemauan kepala sekolah untuk membantu anak buahnya untuk berkembang dan maju.

Problem yang dihadapi sekolah sekarang ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun yang lalu. Perubahan yang cepat di masyarakat dalam segala segi memerlukan respon yang tepat dari sekolah kalau tidak ingin sekolah teralienasi dari masyarakat penggunanya.Kurikulum yang baru, manajemen sekolah yang baru, passing grade Ujian Nasional yang terus meningkat, membuat pekerjaan kepala sekolah bukan pekerjaan yang ringan.

Tidak lagi relevan membebankan semua tanggung jawab tadi kepada seorang kepala sekolah sendirian. Dalam situasi seperti ini, guru bisa mengambil perannya sebagai pemimpin dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang agenda penting sekolah. Dan seperti dikatakan oleh Newman dan Simmons dalam Jurnal Phi Delta Kappan No. 82 tahun 2000, bahwa pendidikan berkualitas bagi siswa akan bisa diberikan bila ada pembagian tanggung jawab kepemimpinan di sekolah. Dengan kata lain, kepemimpinan di sekolah bukan hanya monopoli kepala sekolah.

Mencermati fenomena di atas, tugas berikutnya dari seorang kepala sekolah adalah membagi tanggung jawab kepemimpinan di sekolah kepada seluruh komponen sekolah. Apabila hal ini bisa berjalan dengan baik, maka problem discontinuity of the school program karena pergantian kepemimpinan sekolah bisa diminimalkan. Kepergian kepala sekolah yang lama dan kedatangan kepala sekolah yang baru tidak memberikan pengaruh yang merugikan terhadap program peningkatan mutu yang telah dicanangkan sebelumnya.

Terakhir, sebagian besar kepala sekolah yang baru biasanya ditempatkan di sekolah pinggiran yang sedang mencari identitas atau ‘sekolah kelas dua’. Kenyataan ini membuat pekerjaan sebagai kepala sekolah bukan pekerjaan yang ringan. Perlu kerja keras dan kadang lompatan besar dari kepala sekolah untuk mengkompensasi ‘ketidakberuntungan’ yang mereka hadapi.

Dalam hal ini, kepala sekolah harus membuat sesuatu yang beda (something difference) tentang sekolahnya, sehingga sekolahnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Ini bisa dilakukan melalui analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki sekolah (analisis SWOT). Dari hasil analisis itu bisa ditentukan program sekolah yang bisa menjadi unggulan sekolah yang akhirnya sekolah bisa dilirik oleh masyarakat sekitarnya. Bukankah seperti dikatan bankir Mohtar riady, “Gunung tidak perlu tinggi yang penting ada dewanya; Sungai tidak perlu dalam yang penting ada naganya.” Jadi, buat sesuatu yang berbeda tentang sekolah anda yang membuat orang tertarik dengannya.

Keempat hal di atas, apabila bisa dilakukan dengan baik akan meminimalkan dampak dari suksesi kepemimpinan di sekolah dan menjamin usaha peningkatan mutu yang berkelanjutan. Sesuatu yang mudah didiskusikan tapi perlu kesungguhan untuk melakukannya. Selamat bekerja demi menyiapkan anak bangsa yang berkualitas.

Ujian Nasional Yang Sungguh Terlalu

Dalam beberapa hari terakhir ini kita disuguhi berita-berita tragis, menggelikan, dan absurd yang berkaitan dengan Ujian Nasional. Seorang kakek berusia 76 tahun di Kota Batu mengembuskan nafas yang terakhir karena kaget setelah mendengar dua cucunya tidak lulus dalam Ujian Nasional SMA yang diumumkan hari Sabtu yang lalu. Di bagian lain, kita melihat puluhan pelajar melakukan konvoi bersuka cita- yang kadang kelewat batas dan bikin geram aparat kepolisian- demi merayakan kelulusannya. Mereka merasa berhak melakukan itu untuk mengompensasi kecemasan yang telah menghantui mereka sejak mengikuti ujian nasional.

Sementara itu, ada orang yang terdiam dan terbengong-bengong menyaksikan kenylenehan hasil Ujian Nasional. Misalnya, di sebuah SMA swasta di Diwek Jombang, ada seorang siswa yang menonjol prestasi akademiknya, namun dinyatakan tidak lulus. Sementara itu, di sebuah SMA di Ploso Jombang, seorang siswa yang diketahui lemah dalam mata pelajaran eksakta ternyata memperoleh nilai sempurna 10 untuk mata pelajaran matematika. (Radar Mojokerto, Senin, 16 Juni 2008). Ada juga kasus unik yang terjadi pada Ujian Nasional tahun yang lalu. Seorang siswa yang juara Olimpiade Sains ternyata dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional. Namun, setelah mengikuti ujian kesetaraan paket C dan dinyatakan lulus, dia malah berhasil melanjutkan studi di perguruan tinggi luar negeri. Absurd.

Kenapa itu semua bisa terjadi? Kenapa siswa yang dalam kesehariannya menonjol prestasi akademiknya justru keok dalam Ujian Nasionalnya? Ada banyak alasan kenapa ini terjadi. Pertama, mungkin siswa dalam kondisi tidak fit ketika ujian. Kedua, siswa mungkin mengalami tekanan psikologis yang berat ketika mengikuti ujian. Ini karena, mungkin, orang tua sejak awal telah mengindoktrinasikan bahwa “Kamu harus lulus!”. Sementara, guru-guru di sekolahnya terus memberi warning bahwa Ujian Nasional akan semakin sulit karena passing grade dinaikkan dan jumlah mata pelajaran ditambah. Pesan- peasan yang disampaikan oleh orang tua dan juga guru yang diharapkan akan memotivasi belajar sang anak ternyata malah menjadi boomerang.

Siswa merasa, tiga hari ujian nasional akan menjadi saat yang sangat menentukan dalam hidupnya. Kegagalan untuk melakukan yang terbaik dalam tiga hari itu akan membuyarkan usaha yang telah dilakukannya selama tiga tahun. Beban psikologis ini sangatlah berat bagi siswa. Hal ini masih diperparah dengan overacting-nya pelaksanaan Ujian Nasional itu sendiri. Naskah soal harus selalu dalam pengawasan polisi. Di Makassar bahkan sampai harus melibatkan Densus 88 anti teror untuk mengamankan pelaksanaan Ujian Nasional. Keseraman-keseraman ini tak ayal lagi akan mempengaruhi konsentrasi siswa ketika menempuh ujian nasional.

Lantas, teori apa yang bisa menjelaskan kenapa siswa yang kesehariaanya biasa-biasa saja atau bahkan kurang namun ternyata mampu menyabet nilai sempurna? Jawaban yang paling aman adalah itu memang sudah” rejekinya”. Kalau jawaban yang sedikit suudzon, mungkin karena dia lihai menyontek atau bahkan dibantu gurunya. Di luar penjelasan yang dua tadi, tidak ada penjelasan lain yang masuk akal.

Mencermati fenomena-fenomena di atas tampaknya ada yang perlu diperbaiki dengan sistim pengujian yang dilaksanakan di negeri ini. Karena ternyata model yang dilaksanakan sekarang belum mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Dengan diadakannya Ujian Nasional sebenarnya diharapkan akan diketahui standar kualitas pendidikan di Indonesia, namun kenyataanya yang diperoleh adalah angka- angka yang nyleneh yang diragukan atau bahkan ditertawakan sendiri oleh para guru.

Menurut hemat penulis, letak kesalahannya adalah menjadikan Ujian Nasional menjadi penentu kelulusan siswa. Dengan menempatkan Ujian nasional sebagai penentu kelulusan akan menyulitkan dalam memperoleh data yang akurat tentang kualitas pendidikan di negeri ini. Akan banyak faktor yang ikut atau memaksa ikut menentukan hasil ujian. Ketakutan guru dan orang tua siswa. Kecemasan pejabat yang membidangi pendidikan. Semua ikut mewarnai, baik secara positif maupun negatif, terhadap hasil ujian. Dus, kualitas sebenarnya dari seorang siswa akan tersamarkan.

Kalau Ujian Nasional tidak diharapkan sebagai penentu kelulusan, lantas ia harus kita posisikan sebagai apa? Menurut hemat penulis ada dua cara memosisikan Ujian Nasional. Pertama, Ujian Nasional dianggap sebagai alat untuk mengukur tingkat kualitas sumberdaya manusia sekaligus kualitas pendidikan di Indonesia. Dalam posisi ini Ujian Nasional tidak perlu diadakan pada akhir jenjang. Dia bisa diadakan pada saat siswa kelas 3, kelas 8, dan kelas 11 misalnya. Sebagai bandingan, Australia juga mempunyai pengujian kemampuan literasi dan numerasi yang diaadakan secara nasional. Namun keduanya tidak diadakan pada akhir jenjang. Jadi tidak ada beban psikologis yang mengiringi siswa ketika melakukan ujian itu. Dengan demikian, hasil ujian yang diperoleh akan menggambarkan dengan sebenarnya tingkat kemampuan siswa dan secara tidak langsung juga tingkat kualitas pendidikannya.

Kedua, kalau toh kita masih ingin memposisikan Ujian Nasional sebagai penentu bagi siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, kenapa kita tidak memposisikan Ujian Nasional seperti tes TOEFL atau IELTS untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris misalnya. Maksud penulis, hasil Ujian Nasional hanya digunakan untuk masuk sekolah tertentu yang memang mensyaratkan. Dengan kata lain, siswa akan tetap lulus berapa pun nilai Ujian Nasional yang diperolehnya. Tetapi, untuk masuk ke sekolah tertentu, nilai Ujian Nasional yang dia peroleh yang akan berbicara. Dengan demikian siswa akan tetap termotivasi untuk belajar demi memperoleh nilai yang tinggi dalam Ujian Nasional agar supaya bisa masuk ke sekolah yang diinginkannya.

Dengan memosisikan Ujian Nasional seperti dipaparka di atas, diharapkan tidak akan ditemui lagi berita-berita yang tragis, menggelikan, dan absurd yang mengiringi pelaksanaan Ujian Nasional. Tidak didapati lagi orang yang ngedumel bahwa Ujian Nasional adalah kebijakan nasional di bidang pendidikan yang, meminjam ungkapan yang sering dilontarkan Sarim dan Samin dalam sinetron komedi “Si Entong”, sungguh terlalu! Bagaimana menurut Anda?

Monday, May 14, 2007

Writing Tips:Don't Use No Double Negatives

Don't use no double negatives.
Don't never use no triple negatives.
Stamp out and eliminate redundancy and tautology.
Avoid clichés like the plague.
All generalizations are bad.
A preposition is a bad thing to end a sentence with.
And don't start a sentence with a conjunction.
Everyone should be a non-conformist.
People who insult others are jerks.
Always be sincere, even if you don't mean it.
Death to intolerance.
Down with categorical imperatives.
Avoid those run-on sentences that just go on, and on, and on, theynever stop, they just keep rambling, and you really wish the personwould just shut up, but no, they just keep going, they're worse thanthe Energizer Bunny, they babble incessantly, and these sentences, theyjust never stop, they go on forever...if you get my drift...
Nobody has a right to his opinion.
Never contradict yourself always.
Good people like I are never self-righteous.
You should never use the second person.
Never go off on tangents, which are lines that intersect a curve at only one point and were discovered by Euclid, who lived in the sixth century, which was an era dominated by the Goths, who lived in what we now know as Poland...
Always do what is right, even if it's wrong.
Remember what Ralph Waldo Emerson once said, "I hate quotations."
Excessive use of exclamation points can be disastrous!!!!!
Remember to end each sentence with a period
Don't use commas, which aren'tnecessary.
Don't use question marks inappropriately?
Don't be terse.
Don't obfuscate your theses with extraneous verbiage.
Never use that totally cool, radically groovy out-of-date slang.
Stop calling me immature or I'll tell on you.
Avoid tumbling off the cliff of triteness into the black abyss of overused metaphors.
Keep your ear to the grindstone, your nose to the ground, take the bull by the horns of a dilemma, and stop mixing your metaphors.
Fight to the death for your pacifist aims.
Avoid those abysmally horrible, outrageously repellent exaggerations.
Avoid any awful anachronistic aggravating antediluvian alliteration.
Proofread carefully to see if you any words out.
Verbs has to agree with their subjects.
It is wrong to ever split an infinitive.
Be more or less specific.
Parenthetical remarks (however relevant) are (usually) unnecessary.
Also too, never, ever use repetitive redundancies.
No sentence fragments.
Contractions aren't necessary and shouldn't be used.
Foreign words and phrases are not apropos.
Do not be redundant; do not use more words than necessary; it's highly superfluous.
Comparisons are as bad as clichés.
Eschew ampersands & abbreviations, etc.
One-word sentences? Eliminate.
Analogies in writing are like feathers on a snake.
The passive voice is to be ignored.
Use words correctly, irregardless of how others use them.
Understatement is always the absolute best way to put forth earth- shaking ideas.
Use the apostrophe in it's proper place and omit it when its not needed.
If you've heard it once, you've heard it a thousand times: Resist hyperbole; not one writer in a million can use it correctly.
Puns are for children, not groan readers.
Go around the barn at high noon to avoid colloquialisms.
Who needs rhetorical questions?
Avoid "buzz-words"; such integrated transitional scenarios complicate simplistic matters.

Sunday, April 15, 2007

The English National Examination and Its Backwash

English National Examination in junior high school in Indonesia takes the form of multiple choice tests and it only covers reading, vocabulary, grammar, and writing in indirect form. Brown’s (2004, p.37) statement that the design of effective test should point the way to beneficial backwash is very impressive. Until now, my colleague teachers in Indonesia tend to teach their students only the content area to be tested in the national examination. They do this because they will feel appreciated by students’ parents and also the headmaster if their students get good results in their national examination. The result of the national examination is very important. If the students fail to achieve the passing grade (Now 4.5), then, they can not promote to the next level / the higher class.

The problem is the design of the national examination. The area covered in the national examination is limited to reading and writing skills and language components: vocabulary and grammar. So, the teachers will spend most of their time drilling only these areas neglecting to develop the students’ listening and speaking skills. Consequently, it becomes stereotyped that Indonesian students who study abroad will keep quiet in the class but their paper and pencil test result is relatively satisfactory. Here we know that the design of the national test will influence the way the teachers teach their students. I guess if the design of the national test is improved, adopting IELT model for example, the way the teachers teach their students will differ, there will be balance in attention of the teachers to develop the four language skills. The beneficial backwash of the language testing will exist.

However, if the English national examination design is not improved, it is the task of the teachers’ forum to find the ways to minimize the negative or harmful backwash of national English test. So, we, teachers, still give the best to the students.

Reading List:
Brown, H.D (2004). Language assessment: Principles and classroom practices. New York: Pearson Education

Mendidik Anak Bangsa di Luar Negeri

Terhitung sejak tahun lalu, saya mendapatkan amanah untuk menjadi kepala sekolah di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR), sekolah kedutaan di ...